Yoga Firdaus

Saturday, October 20, 2018

Bakti Anak Terhadap Orang Tua Yang Telah Wafat
Saturday, October 20, 20180 Comments
Bakti Anak Terhadap Orang Tua Yang Telah Wafat
Rumusan Masalah
Akhlak karimah merupakan wujud bakti seorang anak terhadap orang tuanya yang telah wafat.

Pembahasan
1. Akhlak Karimah
Akhlak karimah adalah akhlak yang terpuji. Akhlak yangbaik yang harus dimiliki oleh setiap orang. Seseorang akan terpandanindah ketika ia memiliki akhlak yang karimah atau terpuji. Didalam hadits dijelaskan bahwa :

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا نُوحُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِمْرَانَ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
سَرْجِسَ الْمُزَنِيِّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْتُ الْحَسَنُ وَالتُّؤَدَةُ وَالِاقْتِصَادُ جُزْءٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami, telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais dari Abdullah bin Imran dari 'Ashim Al Ahwal dari Abdullah bin Sarjisa Al Muzani bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perangai yang baik, sifat kehati-hatian dan tidak berlebihan merupakan bagian dari dua puluh empat bagian dari (sifat) kenabian.”
Jika kita memiliki akhlak karimah, maka kita tergolong sebagai orang yang baik perangainya. Orang yang senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tidak baik ataupun merugikan. Berusaha untuk selalu melakukan hal-hal yang baik menurut segala aspek. Dalam hal ini, akhlak karimah pastinya akan memberikan implikasi yang baik bagi pemiliknya. Dengan akhlak karimah, ia merasa lebih baik dan lebih teratur.
Namun, hanya orang-orang tertentu yang bisa mewujudkan akhlak karimah tersebut. Contohnya, kita sebagai anak yang harus berakhlak karimah terhadap orang tua. Dengan selalu berbuat baik kepada keduanya dan membuat mereka bangga akan kehadiran kita di dunia ini. Orang tua adalah orang yang senantiasa mengarahkan kita untuk selau berbuat baik. Maka, sangat pantas jika kitapun berakhlak karimah terhadapnya. Berbakti kepada keduanya adalah cara yang terbaik untuk mewujudkan akhlak karimah terhadap orang tua.
2. Bakti Anak terhadap kedua Orang Tua
            Didalam hadits dijelaskan bahwa:

 قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّه

...Beliau menjawab: "Berbakti kepada kedua orang tua." Saya bertanya, "Kemudian?" Beliau menjawab: "Jihad di dalam jalan Allah."
Berbakti kepada keduanya adalah salah satu perbuatan yang sangat terpuji. Dalam kaidah bahasa Arab, berbakti kepada orang tua adalah Al birr al walidain. Banyak hal yang bisa menjadi jalan untuk berbakti kepada orang tua. Sebagai seorang Anak yang dibesarkan oleh keduanya, maka sangatlah patut jika Anak senantiasa  berbakti kepada keduanya.
Di dalam hadits dijelaskan kembali, bahwa:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَال
 ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ
قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ
وَفِي حَدِيثِ قُتَيْبَةَ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِي وَلَمْ يَذْكُرْ النَّاس

"..menjawab: "Kemudian Ibumu!" dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dijawab: "Kemudian bapakmu!" sedangkan di dalam Hadits Qutaibah disebutkan;"
Seorang Anak dituntut untuk senantiasa memuliakan keduanya dengan cara yang baik. Membuat keduanya menjadi tenang, senang dan bangga akan kehadiran yang menjadi anaknya.
3. Akhlak karimah terhadap Orang tua yang telah wafat
a. Menshalatkan, mendo'akan, menjalankan wasiatnya yang sesuai dengan syariat dan bersilaturahmi kepada teman dari keduanya.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْمَعْنَى قَالُوا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَسِيدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عُبَيْدٍ مَوْلَى بَنِي سَاعِدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ
قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيّ
شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا
 تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdi dan Utsman bin Abu Syaibah dan Muhammad Ibnul 'Ala` secara makna, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari 'Abdurrahman bin Sulaiman dari Asid bin Ali bin Ubaid -mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) bani Sa'idah- dari Bapaknya dari Abu Usaid Malik bin Rabi'ah As Sa'idi ia berkata, "Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari bani Salamah datang kepada beliau. Laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah masih ada ruang untuk aku berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?" beliau menjawab: "Ya. Mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan wasiatnya, menyambung jalinan silaturahmi mereka dan memuliakan teman mereka."
b. Sedekah atas nama keduanya

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ أَخْبَرَنَا مَخْلَدُ بْنُ يَزِيدَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يَعْلَى أَنَّهُ سَمِعَ عِكْرِمَةَ يَقُولُ أَنْبَأَنَا ابْنُ
عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا
أَيَنْفَعُهَا
شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَ

Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Salam telah mengabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata telah bercerita kepadaku Ya'laa bahwa dia mendengar 'Ikrimah berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Sa'ad bin 'Ubadah radliallahu 'anhu ibunya meninggal dunia saat dia tidak ada disisinya. Kemudian dia berkata: "Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia saat aku tidak ada. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu?" Beliau bersabda: "Ya". Dia berkata: "Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya."
c. Melakukan Ziarah terhadap makam dari keduanya

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ
فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ النَّبِيذِ إِلَّا فِي سِقَاءٍ فَاشْرَبُوا فِي الْأَسْقِيَةِ كُلِّهَا وَلَا تَشْرَبُوا مُسْكِرًا

Berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah. Saya juga pernah melarang kalian makan daging kurban setelah tiga hari, sekarang simpanlah untuk keperluan kalian. Dan saya juga pernah melarang kalian meminum anggur kecuali jika dalam bejana minum, sekarang minumlah dalam semua bejana kalian, tetapi jangan sekali-kali kamu minum yang memabukkan."

Kesimpulan
Anak yang baik ialah anak yang senantisa dapat berbakti kepada orang tuanya. Berusaha semaksimal mungkin untuk memuliakan kedua orang tuanya, serta berusaha untuk membuat keduanya bangga dan senang, di dunia maupun di akhirat kelak.

Daftar Pustaka
Kitab Shahih Muslim
Kitab Shahih Bukhari
Kitab Musnad Ahmad
Kitab Sunan Abu Daud
Kitab Sunan Tirmidzi
Yazid A.Q, Jawas. 2003. Birrul Walidain. Jakarta: Pustaka Darul Qalam
Aziz Fathi sayid, N. 2009. Berbakti Kepada Orang Tua. Jakarta: IslamHouse.com
Jumadi, A. 2014. Birrul Walidain, Lafal. Yogyakarta: Gema Insani
Read more

Saturday, October 14, 2017

Ide Cemerlang
Saturday, October 14, 20170 Comments
Bisnis baruku ini aku mulai disaat aku telah masuk di kursi perkuliahan. Aku sendiripun tak menyangka tentang hal ini. Mungkin, ini salah satu jalan dari Allah SWT untukku.

Ini semua bermula disaat temanku yang memang dekat sekali denganku. Ia bernama Afif. Dengannya aku berinteraksi, saling bertukar pendapat, belajar bersama dan lain-lain. Dia temanku yang berasal dari Kota Majalengka. Dan aku berasal dari Kota Bogor.

Pada suatu hari, temanku ini menceritakan kepadaku tentang hal-hal yang berhubungan dengan bisnis. Dan akupun sangat senang sekali mendengarkan ceritanya. Aku sangat memperhatikan dirinya dan apapun yang diceritakan olehnya. Dan ternyata, itu membuatku terpengaruh. Aku mulai berfikir dan terus mengembangkan pemikiranku tentang Bisnis. Dan disaat itu aku merasa bahwa bisnis adalah salah satu hal yang positif yang sekarang ini bisa aku lakukan.

Di hari selanjutnya, temanku memberi pesan kepadaku lewat pesan singkat. Ia memberitahuku tentang suatu Bisnis. Dan akupun dengan senang hati mencerna pesan darinya. Pesannya berisi tentang Bisnisnya. Dia mempunyai sebuah bisnis yang unik. Akupun mulai terpengaruh olehnya.

Bisnis tersebut ialah bisnis yang sudah dijalankan olehnya bersama temannya yang bernama Bil Huda. Nama produk di bisnisnya yaitu Camilan Anak Kos (CAKOS). Dengan adanya hal itu, mebuatkan semangat untuk bisa berbisnis. Aku mulai tertarik dengan apa yang dijelaskan oleh temanku tentang bisnis ini.
Di dalam perbincangan saat itu, aku ditawarkan untuk ikut serta dalam bisnisnya, yaitu Bisnis dengan produknya yang bernama Camilan Anak Kos (CAKOS). Dan aku mulai mengatakan kepada temanku bahwa aku sangat senang menerima tawaran Bisnisnya.
Disaat itulah, aku mulai bergabung di Bisnis baruku. Yaitu, Camilan Anak Kos (CAKOS) 
Read more
Wanita Tercantik
Saturday, October 14, 2017 2 Comments
IBU
Kebeningan kasihmu...
Dari hati nan keruh menuju kebeningan...
Cinta kasihmu Ibu, menjadi penuntun kesesatan...
Yang selalu menunjukan jalan ridha-Nya...
Tepiskan angin dengan do'a-do'amu...

Maka...
Aku mestinya tidak pantas untuk membantahmu...
Hati suci itu, ialah ketulusan menyemai terangnya cahaya...
Atas segala nikmat dan karunia-Nya...
Yang menguntumkan Bunga-bunga Bahagia...
Karena Ibu selalu membina suatu hidup...
Yang lebih mendekatkan jiwa kepada-Nya...

Kasih tulusmu Ibu...
Membeningkan hati yang keruh...
Dengan bimbingan dan kasih sayangmu...

Maka...
Izinkan anakmu bersandar...
Saat kemalangan hidup menghampiriku...

Kasih sayang seorang Ibu

Betapa beruntungnya seorang anak yang masih berada dekat dengan Ibunya. Merasakan kasih sayang darinya. Tentang kelembutan, kehangatan, ketenangan, dan kebahagiaan yang diberikan olehnya. Kita sebagai seorang anak harus mengerti tentang hal itu. Dengan apapun yang kita miliki, tentunya sangat sulit untuk membalas semua pengorbanan dari seorang Ibu. Sekalipun kita mempunyai banyak hal dari segi materi dan nonmateri, tapi tetap saja kita tidak akan dapat membalas pengorbanan seorang Ibu.


Dengan adanya kita sekarang, berdiri, duduk, bahkan tidur dengan tenang merasakan kehidupan. Itu semua pada dasarnya karena pengorbanan seorang Ibu. Dengan segala jerih payah, kelelahannya, sakit yang tak pernah ia rasakan ketika mengurus kita, dan masih banyak hal lain yang mungkin belum kita fahami secara mendalam tentang pengorbanan dari seorang Ibu.

Kita sebagai anak tentunya harus berusaha untuk dapat membalas sebagian dari pengorbanannya.

"Dengan cara bagaimana kita membalas pengorbanannya?"

Kita harus menghormati dan berbakti kepadanya. Menyayanginya dengan penuh rasa hormat. Mengikuti semua nasihat baik darinya. Selalu berusaha untuk menaati dan memenuhi apa yang diinginkannya. Karena Ibu kita adalah orang yang berharga bagi kita. Pelopor kebaikan bagi kita. Sekaligus sebagai pendorong kebenaran, yang dibuktikan dengan nasihat-nasihat baik darinya.

Jadi, sayangilah Ibu. Sayangilah dengan cara yang terbaik. Tidak lupa juga untuk sayang kepada pendamping Ibu, yaitu Ayah. Hormati dan sayangilah Ayah, sebagaimana kita menyayangi Ibu kita sendiri.

Disebutkan didalam salah satu Hadits Rasulullah SAW, yaitu :
Dari Abu Hurairah r.a, beliau berkata : Seseorang datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata : " Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?". Rasulullah SAW menjawab : "Ibumu!". Orang tersebut bertanya kembali. " Kemudian siapa lagi?". Rasulullah SAW menjawab lagi, "Ibumu!". Orang tersebut bertanya kembali. "Kemudian siapa lagi?". Rasulullah SAW menjawab, "Ibumu!". Dan orang tersebut bertanya kembali, "Kemudian siapa lagi?". Rasulullah SAW menjawab, "Kemudian Ayahmu." ( H.R. Bukhari No. 5971 dan Muslim No. 2548 )

Catatan dari saya :

"Menurut saya, ibu saya adalah wanita tercantik setelah ketampanan ayah saya. Saya sangat menyayangi mereka. Saya ingin terus berbakti kepada mereka. Memberikan yang terbaik untuk mereka." 


Terima kasih telah berkunjung. Semoga bermanfa'at :-)
Read more