Yoga Firdaus

Friday, February 21, 2020

Mengkhawatirkan Esok
Friday, February 21, 20200 Comments
Hari esok yang selalu menjadi dambaan untuk kehidupan yang lebih baik.
Di dalam hidup ini, terkadang kita memang perlu untuk memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Dengan memikirkannya, kita mempunyai kekuatan untuk bisa mempersiapkan segala hal untuk kedepannya. Semisal, tanpa disadari, kita pun berangan-angan dan selalu memikirkan kehidupan apa yang terjadi di hari esok.
Setiap dari kita pasti mempunyai keinginan. Baik berupa cita-cita, harapan dan lain sebagainya. Hal itu yang merangsang kita berangan-angan dan memikirkan kehidupan selanjutnya. Seperti apa kehidupan yang kita alami selanjutnya, apakah lebih baik, atau bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
Terkadang, kita sangat antusias dalam membangun kewaspadaan diri kita sendiri terhadap kehidupan selanjutnya, hingga melupakan hal yang terpenting lainnya daripada itu. Di hari esok, di minggu esok, di bulan esok, bahkan di waktu yang lebih jauh lagi untuk kehidupan selanjutnya. Padahal, hal itu pun yang kita tidak sadari menyiksa diri kita.
Mengkhawatirkan hari esok atau yang semacamnya, bisa membuat diri kita rapuh. Hal itu terjadi karena kita sulit untuk menerima kenyataan yang dijalani saat ini, terburu-buru ingin harapan kita terkabul, bahkan sampai diri kita pun lupa akan bersyukur.
Allah Subnahu Wata’ala berfirman:
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَٱرْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ ٱلْأَمَانِىُّ حَتَّىٰ جَآءَ أَمْرُ ٱللَّهِ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلْغَرُورُ ﴿١٤﴾
Artinya: "Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu." (Q.S. al-Hadiid {57}: 14)
Maka dari itu alangkah baiknya kita membuat takaran untuk diri kita sendiri dengan sewajarnya, memikirkan kehidupan selanjutnya dengan sewajarnya saja. Dan berusaha untuk selalu mensyukuri kehidupan yang dijalani saat ini. Jalani kehidupan dengan sebaik mungkin, dengan berdoa yang diiringi dengan usaha yang maksimal. Agar kita pun akhirnya dapat percaya diri akan kehidupan selanjutnya.
Wallahua'lam.
Read more

Monday, January 27, 2020

Doa Agar Terhindar Dari Virus Corona
Monday, January 27, 20200 Comments
Doa Agar Terhindar Dari Virus Corona

Sehat itu adalah salah satu harta yang berharga dalam kehidupan. Suatu hal yang sangat wajar, jika setiap orang mendambakan sehat, baik secara jasmani, atau pun rohani. Dengan kondisi diri yang sehat, segala hal yang dilakukan dalam kehidupan, akan terasa nikmat dan indah.
Baru-baru ini, kita dihebohkan dengan suatu hal yang menyita perhatian kita bersama. Yakni, adanya suatu wabah penyakit baru, yang disinyalir akan sangat mengganggu kesehatan kita. Wabah penyakit tersebut dinamakan sebagai Virus Corona.
Virus Corona dikenal sebagai 2019-nCoV, yang dipahami juga sebagai virus jenis baru yang mematikan. Gejala-gejala infeksi virus ini adalah gangguan pernapasan, demam, flu, dan bahkan sampai kepada kematian.
Sebagai umat beragama, terkhususnya sebagai umat islam, kita meyakini bahwasannya Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Kita harus memotivasi diri kita bahwa segala penyakit itu pasti ada obatnya.
Berangkat dari itu semua, alangkah baiknya jika kita bermunajat, memohon kepada Allah subhanahu wa ta'ala, agar kita mendapatkan pertolongan dari-Nya, dan dijauhkan dari segala hal yang tidak diinginkan. Yakni, dengan melafalkan bacaan doa yang dicontohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئْ الْأَسْقَامِ
Allahumma innii a’uudzubika minal barashi wal junuuni wal judzaami wa min sayyi il asqaami

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kusta, gila, lepra, dan dari penyakit yang buruk.” (Dinukil dalam kitab Baitul Afkar Ad Daula, Abu Dawud, No. 1554)

Wallahu a’lam.

Read more

Tuesday, November 26, 2019

Empat Pesan Nabi SAW
Tuesday, November 26, 20190 Comments
Empat Pesan Nabi SAW
Di dalam kehidupan ini, tentunya kita harus mengetahui apa yang menjadi tujuan kita. Kemanakah kita akan pergi. Bagaimanakah cara kita untuk dapat mengarungi kehidupan yang ada dunia ini.
Ada empat pesan Nabi SAW kepada Abu Dzar, yang hal ini pun berlaku untuk umat Nabi SAW secara umum dan untuk sepanjang zaman. Dinukil dalam kitab Nashaihul 'Ibad, karangan Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Bantani (Imam Nawawi).
Bahwasannya Nabi SAW bersabda, "Wahai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu karena laut itu dalam, ambilah bekal yang cukup karena perjalanannya jauh, ringankan beban bawaan karena lereng bukit sulit dilalui, dan ikhlaslah dalam beramal karena Allah Maha Teliti."
Yang pertama, perintah untuk memperharui perahu berarti menata niat. Niat merupakan hal pokok dalam setiap perbuatan. Seseorang yang ingin melakukan sesuatu, hendaklah menertibkan rencana dan tujuan yang baik. Selain memantapkan langkah, niat juga membantu seseorang untuk fokus pada arah yang digariskan, yakni untuk mencari ridha Allah SWT. Seperti yang disabdakan Nabi SAW, "Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya.” (HR Bukhari).
Yang kedua, Nabi SAW mengingatkan Abu Dzar dan kita semua tentang usaha untuk menumpuk perbekalan sesempurna mungkin karena perjalanan akan panjang. Di akhiratlah berlangsung hari pembalasan atas segenap perilaku kita selama di dunia. Bagi yang tak cukup bekal mereka pun akan menyesal. Allah SWT berfirman, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa.” (QS al-Baqarah: 197).
Yang ketiga, perintah untuk meringankan beban bawaan karena terjalnya lereng gunung yang dilintasi. Perjalanan yang jauh dengan tingkat kesulitan yang tinggi menuntut seseorang untuk mempertimbangkan barang-barang bawaan saat bepergian. Nabi SAW mendorong umatnya agar tidak terlalu terpukau pada kehidupan dunia, karena semakin banyak ia terpukau, semakin banyak pula beban yang akan ditanggungnya di akhirat kelak. Karena negeri akhirat adalah tempat menghisab segala apa yang dimiliki. Allah SWT berfirman, “Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS al-Ghaasyiyah: 25-26).
Yang terakhir, ikhlas dalam beramal. Murnikanlah berbuat sesuatu apa pun hanya untuk tujuan mencari ridha Allah. Ikhlas memang tidak menjadi salah satu rukun yang mesti dilakukan, akan tetapi ikhlas adalah “ruh” yang menentukan apakah suatu amal memiliki nilai di sisi Allah SWT atau tidak. Allah SWT berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS al-Bayyinah: 5).
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan untuk kita semua, agar dapat mengarungi kehidupan yang ada di dunia ini. Aamiin
Wallahu A’lam
Read more