Yoga Firdaus

Wednesday, April 1, 2020

Iman Kepada Rasul
Wednesday, April 01, 20200 Comments
KATA PENGANTAR
Pertama-tama perkenankanlah kami selaku penyusun makalah ini mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul Beriman Kepada Rasul Allah SWT..
Ucapan terima kasih dan puji syukur kami sampaikan kepada Allah dan semua pihak yang telah membantu kelancaran, memberikan masukan serta ide-ide untuk menyusun makalah ini.
Kami selaku penyusun telah berusaha sebaik mungkin untuk menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila terdapat kekurangan maupun kesalahan. Oleh karena itu kami memohon saran serta kritik yang dapat kami jadikan motivasi untuk menyempurnakan pedoman dimasa yang akan datang.


                                                                                        


Bandung 05 November 2017


                                                                                                                       
                                                                                                            penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... 1
DAFTAR ISI .................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................   3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Iman Kepada Rasul Allah...........................................................................   5
2.2 Sifat wajib yang di miliki Rasul.................................................................   7
2.3 Tugas Nabi dan Rasul.................................................................................   8
2.4 Fungsi Iman Kepada Nabi dan Rasul.........................................................   8
2.5 Hakikat Iman Kepada Rasulullah...............................................................   8
2.6 Perilaku Mulia yang Di Cerminkan oleh orang yang beriman pada Rasul                                  12       
2.7 Hikmah beriman kepada Rasul-rasul Allah SWT......................................   13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................   14
3.2 Saran...........................................................................................................   17
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................   18


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.    Latar Belakang
Sebagai mana yang telah kita ketahui bersama bahwa kita tidak akan lepas dengan apa yang namanya aturan-aturan yang terkait dengan hidup dan kehidupan kita sebagai umat Islam, kita berkewajiban untuk mentaati dan mematuhi segala ajarannya.
Sebagai umat islam kita harus berpegang teguh kepada tali agama Allah swt yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Dan telah kita ketahui pula banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang kita jadikan pedoman menjalani kehidupan agar mencapai ridha Allah swt.
Untuk menjadi umat islam yang sempurna maka kita harus beriman kepada Allah swt dan rasulnya dan kitab-kitab yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya. Di kesempatan ini kami akan membahas tentang penafsiran ayat-ayat yang berkaitan dengan kewajiban mematuhi Allah dan rasul-Nya.


BAB II
PEMBAHASAN

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Q.s An-Nisa : 136 )
Setelah memerintahkan berbuat adil, dan agar keadilan dapat berkesinambungan dari seseorang dan dapat terus-menerus ditegakkan, maka dilanjutkannya dengan nasihat yang dapat mengantar ke arah penegakkan keadilan dan kesinambungannya yaitu memelihara dan terus-menerus meningkatkan keimanan. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya pelihara dan asah serta asuh iman itu, demikian juga iman kepada kitab yang Allah turunkan sekaligus sebelumnya[1]. Barang siapa yang membawanya kepada nabi-nabi dan barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dari jenis manusia atau malaikat dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat dengan kesesatan yang sangat jauh.
Panggilan kepada orang-orang yang beriman pada awal ayat ini, yang disusul dengan perintah beriman, ada yang memahaminya dalam arti orang-orang yang beriman, ada yang memahaminya dalam arti orang-orang yang beriman tetapi ada sesuatu yang kurang dalam keimanan mereka sehingga ayat ini memerintahkan untuk menyempurnakannya. Penganut paham ini menyatakan bahwa mereka yang diajak oleh ayat ini adalah sementara bekas penganut agama Yahudi yang telah masuk Islam tetapi masih terdapat dalam benak mereka hal-hal yang mereka percayai, yang tidak sejalan dengan iman Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.
Ada juga yang memahami ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik yang memang keimanan masih sangat lemah. Selanjutnya seperti terbaca sebelum ini, ada juga yang memahaminya dalam arti perintah kepada kaum mukminin, agar mempertahankan, bahkan mengasah dan mengasuh iman mereka, agar dari hari ke hari semakin kuat.

2.1.    Iman Kepada Rasul Allah
Iman kepada Rasul[2] Allah termasuk rukun iman yang keempat dari enam rukun yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud iman kepada para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah swt. untuk menerima wahyu dariNya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia agar dijadikan pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Menurut Imam Baidhawi, Rasul adalah orang yang diutus Allah swt. dengan syari’at yang baru untuk menyeru manusia kepadaNya. Sedangkan nabi adalah orang yang diutus Allah swt. untuk menetapkan (menjalankan) syari’at rasul-rasul sebelumnya. Sebagai contoh bahwa nabi Musa adalah nabi sekaligus rasul. Tetapi nabi Harun hanyalah nabi, sebab ia tidak diberikan syari’at yang baru. Ia hanya melanjutkan atau membantu menyebarkan syari’at yang dibawa nabi Musa AS.
Mengenai identitas rasul dapat dibaca dalam Q.S. Al Anbiya ayat 7 dan Al-Mukmin ayat 78 yang artinya:
“ Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad) melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” (Q.S. al Anbiya: 7)
"Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah dari Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil." (Q.S. Al-Mukmin : 78)
Dalam ayat di atas dijelaskan, bahwa rasul-rasul yang pernah diutus oleh Allah swt. adalah mereka dari golongan laki-laki, tidak pernah ada rasul berjenis kelamin perempuan, dan jumlah rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw. sebenarnya sangat banyak. Di antara para rasul itu ada yang diceritakan kisahnya di dalam Al-Quran dan ada yang tidak.
عَنْ أَبِى ذَر قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَمْ عِدَّةُ اْلاَنْبِيَاءِ ؟ قَالَ : مِائَةُ اَلْفٍ وَاَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ اَلْفًا اَلرُّسُلُ مِنْ ذَالِكَ ثَلاَثَةُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيْرًا  
(رَوَاهُ أَحْمَد)
"Dari Abu Dzar ia berkata: Saya bertanya, wahai Rasulullah : berapa jumlah para nabi? Beliau menjawab: Jumlah para Nabi sebanyak 124.000 orang dan di antara mereka yang termasuk rasul sebanyak 315 orang suatu jumlah yang besar." (H.R. Ahmad )[3]

2.2     Sifat wajib yang di miliki Rasul
Shiddiq (benar). Mereka selalu berkata benar, dimana, kapan dan dalam keadaan bagaimanapun mereka tidak akan berdusta (kadzib).
a.       Amanah, yaitu dapat dipercaya, jujur, tidak mungkin khianat.
b.      Tabligh, artinya mereka senantiasa konsekwen menyampaikan kebenaran (wahyu) kepada umatnya. Tidak mungkin mereka menyembunyikan kebenaran yang diterimanya dari Allah swt. (kitman), meskipun mereka harus menghadapai resiko yang besar.
c.       Fathanah, artinya semua rasul-rasul adalah manusia-manusia yang cerdas yang dipilih Allah swt. Tidak mungkin mereka bodoh atau idiot (baladah).
Khusus nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin para rasul (sayyidul mursalin) mendapat sanjungan dan pujian yang luar biasa dari Allah swt. disebabkan karena akhlaknya sebagaimana tersebut dalam surah Al Qalam ayat 4 yang artinya “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung “ (Q.S. Al Qalam: 4)


2.3.    Tugas Nabi dan Rasul
Tugas pokok yang diberikan Allah SWT kepada para nabi dan rasul sejak dari Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Muhammad SAW[4] adalah :
a.       Memberi kabar gembira bagi orang-orang yang mentaati risalah-Nya.
b.      Membimbing umatnya ke jalan yang benar sehingga memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
c.       Memberi peringatan kepada orang-orang yang mengingkari-nya.

2.4.    Fungsi Iman Kepada Nabi dan Rasul
Adapun fungsi iman kepada Nabi dan Rasul[5] adalah :
a.       Menambah keimanan kepada Allah SWT, bahwa Rasul itu benar-benar pilihan Allah.
b.      Mengenal Allah SWT dan tata cara beribadah kepada-Nya.
c.       Mendorong manusia untuk memiliki kepribadian yang luhur dengan cara menjadikan Rasulullah sebagai “Uswatun Hasanah”
d.      Mempercayai ajaran-ajaran yang dibawa Rasul Allah untuk disampaikan kepada umatnya.
e.       Mengamalkan ajaran yang diberikan oleh Rasulullah.

2.5.     Hakikat Iman Kepada Rasulullah
Diantara nikmat yang Allah berikan kepada manusia juga seluruh alam adalah diutusnya para Rasul yang menuntun manusia dari kegelapan menuju Islam.
Setelah beriman kepada Allah U maka kewajiban berikutnya adalah beriman kepada Rasulullah Muhammad yang menjadi pondasi yang utama dari agama Islam. Sebab seluruh pondasi yang lainnya dibangun di atas keimanan pada Allah dan Rasul-Nya. Seorang yang tidak mengimani Rasulullah dan hanya beriman kepada Allah tidaklah cukup, dan Iman menjadi batal, Sebagaimana sabda Nabi :
“Artinya: Islam itu dibangun di atas lima rukun , menyaksikan bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya … (HR. Muslim I/45. Al-Bukhari I/).
Diantara cara beriman kepada Rasulullah adalah sebagai berikut:
a.       Meyakini dengan penuh tanggung jawab akan kebenaran Nabi Muhammad  dan apa yang oleh beliau bawa, sebagaimana Allah menandaskan tentang ciri orang bertaqwa:
وَالَّذِيْ جَاءَ بِالصَّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (الزمر : 33)

“Dan orang-orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zumar : 33).
b.      Ikhlas mentaati Rasul dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangannya. Allah berfirman:
وَاِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلاَّ الْبَلغُ الْمُبِينَ  (النور :54 )

“Dan jika kamu taat kepadanya , niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (An-Nur : 54)
c.       Mengikuti ajaran pemikiran, pokok-pokok agama, hukum-hukum dan cabang cabangnya sesuai dengan yang beliau ajarkan dengan ikhlas. Allah berfirman:
فَلاَ وَربِّكَ لاَيُومِنُوْنَ حَتَّى يَحَكِّمُوكَ فِيْمَا شَجَرَبَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَيَجِدُواْ فِى أَنْفُسِهِمْ حَرَجًامِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيْمَا. (النساء : 65 )
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka persilisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa : 65).
d.      Mencintai beliau , keluarga, para sahabat dan segenap pengikutnya. Rasulullah bersabda:
لا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ اَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
“Tidaklah beriman seorang sehingga aku lebih dia cintai dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
e.       Membela dan memperjuangkan ajaran Nabi serta berda’wah demi membebaskan ummat manusia dari kegelapan/kedhaliman, kebatilan, kemungkaran dan kemaksiatan menuju kepada cahaya kebenaran. Sebagaimana firman Allah:

فَالَّذِيْنَ أَمَنُواْ بِهِ وَعَزَرُوهُ وَنَصَرُوْهُ وَتَبَعُواْ النُّوَرَالَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ (الأعراف : 157)

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung” . (Al-’Araf: 157).

f.        Meneladani akhlaq dan kepemimpinan Nabi dalam setiap amalnya, Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُواْ اللهَ وَالْيَوْمِ الآَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا (الاحزاب : 21)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah (Al-Ahzab:21).
g. Banyak membaca shalawat dan salam kepada beliau terutama setelah disebut namanya.
h. Waspada dan berhati-hati dari ajaran-ajaran yang menyelisihi ajaran Nabi Muhammad seperti waspada dari syirik, tahayul, bid’ah, khurafat, itulah pernyataan Allah

فَلْيَحْذَرِالَّذِيْنَ يُخَالِفُونَ عَنْ اَمْرِهِ اَنْتُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْيُصِيْبِهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمَ (النور:63).
“Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang telah berangsur-angsur pergi diantara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi ajaran Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur : 63).
i.                    Mensyukuri hidayah keimanan kepada Allah dan RasulNya dengan menjaga persatuan umat Islam dan menghindari perpecahan dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan AS-Sunnah shohihah. Itulah tegaknya agama:
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الَّدِيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَالَّذِيْ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَهِيْمَ وَمُوسَىا وَعِيْسَى اَنْ أَقِيْمُوا الَّدِيْنَ وَلاَ تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ (السورى : 13)
“Dia telah mensyari’atkan bagi kaum tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah karenanya. (Asy-Syura: 13)

2.6  Perilaku mulia yang dicerminkan oleh orang yang beriman kepada rasul

1.      Menjunjung tinggi risalah (ajaran Allah Swt. yang disampaikan rasul-Nya).
 Allah Swt. berfirman:
 “...Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukuman-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7)
2.      Melaksanakan seruannya untuk beribadah hanya kepada Allah Swt.
Firman Allah Swt.:
 Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun...” (Q.S. an-Nisā : 36)
3.      Giat dan rajin bekerja mencari rezeki yang halal, sesuai dengan keahliannya.
Orang-orang yang beriman kepada rasul tidak akan menjadi orang-orang yang malas bekerja, duduk berpangku tangan, tidak mau berusaha sehingga hidupnya menjadi beban orang lain. Mereka menyadari bahwa memenuhi kebutuhan diri sendiri jauh lebih terhormat daripada karena belas kasihan dan pertolongan orang lain.
4.      Selalu mengingat, memahami, dan berperilaku sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.
5.      Melakukan usaha-usaha agar kualitas hidupnya meningkat ke derajat yang lebih tinggi. Usaha-usaha itu, misalnya seperti berikut:
a.  Memelihara dan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt.
b.  Memelihara dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani.
c.  Meningkatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Misalnya, ilmu pengetahuan tentang pertanian, perikanan, peternakan, teknologi, kedokteran, perdagangan, industri, transportasi, dan ekonomi. Ilmu-ilmu pengetahuan tersebut hendaknya digunakan sebagai bekal dalam beribadah dan usaha menyejahterakan umat manusia.
Allah Swt. berfirman:
“...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (Q.S al- Mujādilah : 11)
6.  Terus berdakwah agar ajaran yang dibawa rasul tidak sirna. 


2.7 Hikmah beriman kepada Rasul
1. Semakin Sempurna Imannya.

 Orang yang beriman kepada Rasul-rasul Allah Swt. Akan sempurna keimanannya, sebab beriman kepada Rasul-rasul Allah Swt merupakan salah satu Rukun iman yang wajib di imani.

2. Terdorong untuk Menjadikan Contoh dalam Hidupnya.

Orang yang betul-betul beriman kepada Rasul Allah Swt. Akan terdorong untuk menjadikan Rasul Allah Swt sebagai contoh dalam kehidupannya. Sebab beriman kepada Rasul Allah Swt bukan hanya sekedar wajib di percaya saja. Akan tetapi Rasul Allah Swt merupakan contoh yang baik untuk kita semua dan ynag harus kita contoh.

3. Terdorong untuk Melakukan Perilaku Sosial yang Baik.

Para Nabi dan Rasul Allah Swt semuamya memiliki sifat sosial yang tinggi. Oleh sebab itulah orang yang beriman kepada Rasul Allah Swt akan sendirinya terdorong untuk melakukan perilaku sosial dalam kehidupan sehari-harinya.

4. Memiliki Teladan dalam Hidupnya.
Firman Allah Swt:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. (QS. al-Ahzab: 21)

5. Mencintai para Rasul dengan Cara Mengikuti dan Mengamalkan Ajarannya[6].
Firman Allah Swt.:
 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya : “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

6. Mengetahui Hakikat Dirinya Bahwa Ia di Ciptakan Allah Swt. untuk Mengabdi Kepada-Nya.

Firman Allah Swt.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. aẓ-Ẓariyat: 56)


BAB III
PENUTUP

3.1.   Kesimpulan
Iman kepada Rasul Allah termasuk rukun iman yang keempat dari enam rukun yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud iman kepada para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah swt. untuk menerima wahyu dariNya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia agar dijadikan pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Menurut Imam Baidhawi, Rasul adalah orang yang diutus Allah swt. dengan syari’at yang baru untuk menyeru manusia kepadaNya. Sedangkan nabi adalah orang yang diutus Allah swt. untuk menetapkan (menjalankan) syari’at rasul-rasul sebelumnya. Sebagai contoh bahwa nabi Musa adalah nabi sekaligus rasul. Tetapi nabi Harun hanyalah nabi, sebab ia tidak diberikan syari’at yang baru. Ia hanya melanjutkan atau membantu menyebarkan syari’at yang dibawa nabi Musa AS.
Sifat wajib yang di miliki Rasul
1). Shiddiq (benar)
2). Amanah
3). Tabligh
4). Fathanah
Tugas Nabi dan Rasul
Tugas pokok yang diberikan Allah SWT kepada para nabi dan rasul sejak dari Nabi Adam AS sampai dengan Nabi Muhammad SAW adalah :
1)      Memberi kabar gembira bagi orang-orang yang mentaati risalah-Nya.
2)      Membimbing umatnya ke jalan yang benar sehingga memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
3)      Memberi peringatan kepada orang-orang yang mengingkari-nya.
Fungsi Iman Kepada Nabi dan Rasul
1)      Menambah keimanan kepada Allah SWT, bahwa Rasul itu benar-benar pilihan Allah.
2)      Mengenal Allah SWT dan tata cara beribadah kepada-Nya.
3)      Mendorong manusia untuk memiliki kepribadian yang luhur dengan cara menjadikan Rasulullah sebagai “Uswatun Hasanah”.
4)      Mempercayai ajaran-ajaran yang dibawa Rasul Allah untuk disampaikan kepada umatnya.
5)      Mengamalkan ajaran yang diberikan oleh Rasulullah.

5.2      Saran
Kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah mengutus manusia laki-laki terpilih yang diberi wahyu oleh Allah SWT dan wahyu tersebut harus disampaikan kepada umatnya sebagai pedoman dan petunjuk hidup, agar hidupnya selamat dari dunia hingga kelak diakhirat.


DAFTAR PUSTAKA

 Shalut, Muhammad. 1998. Akidah dan Syari’ah Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Chirzin, Muhammad. 1997. Konsep dan Hikmah Aqidah Islam. Yokyakarta: Mitra Pustaka.
#







[1]Taurat, Injil, dan Zabur (Kitab-kitab terdahulu sebelum Al-Quran diturunkan)
[2] Shalut, Muhammad. 1998. Akidah dan Syari’ah Islam. Hlm. 20-24.
[3] (HR. Ahmad no. 22288)
[4] Shalut, Muhammad. 1998. Akidah dan Syari’ah Islam. Hlm. 24-26.
[5] Shalut, Muhammad. 1998. Akidah dan Syari’ah Islam. Hlm. 25-26.
[6] Assunah / Al hadits

Read more
Hubungan Manusia dengan Agama
Wednesday, April 01, 20200 Comments
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. yang telah melimpahkan karunia kepada hamba-Nya sehingga makalah ini selesai di susun. Shalawat serta salam kita hanturkan pula kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw, beserta para keluarga dan para sahabatnya juga kepada kita selaku umatnya yang patut dan taat pada ajaran-Nya.
Sehubung dengan terselesainya makalah ini, maka kami mengucapkan banyak terima kasih terutama kepada Dosen kami bapak yumna, S.Ag yang sudah banyak membimbing kami ,dan juga kepada teman-teman yang sudah banyak meluangkan waktunya untuk menyelesaikan makalah ini.
Adapun makalah ini berjudul pandangan islam terhadap manusia . didalamnya akan membahas tentang  fungsi peranan manusia dan pandangan islam menurut psikologi,
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang pandangan islam terhadap manusia, dapat beramanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi siapa saja yang membacanya. Kami telah berusaha sebaik-baiknya namun masih ada kekurangan dari makalah ini, oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan, sehingga bisa lebih baik dalam penyusunan makalah ini.






                                                                                                           Bandung, 4 Oktober 2017

                                                                                                           Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………i
DAFTAR ISI…...…………………………………………………………………………ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang……………………………………………………………….1
1.2    Rumusan Masalah…………………………………………………………….1
1.3    Tujuan Penulis…..……………………………..……………………………..1
BAB II PEMBAHASAN
a.         Manusia Dalam Pandangan Islam…………………..……………………….2
b.        Asal Usul Kehidupan Dalam Perspektif Islam………………………………2
c.         Penyebutan Nama Manusia………………………………………………….4
d.        Fungsi dan Peranan Manusia…………………………………………….…..5
e.         Hakikat Manusia atau Perspektif Islam…………………………… ………..5
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………...9
3.2 Saran………………………………………………………………………….9
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….10


BAB  1
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Kehadiran manusia yang pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan dialam semesta ini. Menurut ilmu pengetahuan, asal usul manusia tidak biasa di pisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evulusi.
Teori evulusi berpengaruh pula pada bidang ilmu pengetahuan lainnya, termasuk psikologi yang objeknya manusia. Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup dimuka bumi yang memiliki karakter yang unik. Memang secara fisik manusia tidak begitu berbeda dengan binatang. Namun yang paling berbeda antara manusia dan makhluk lain adalah terletak pada kemampuannya .

1.2    Rumusan Masalah

1.      Bagaimana hubungan manusia dengan agama?
2.      Bagaimana konsep manusia dalam islam?

1.3    Tujuan Penulis
Adapun tujuan tujuan penulis makalah ini adalah:
1.      Agar  mengetahui pandangan islam terhadap manusia
2.      Agar mengetahui psikologi terhadap manusia 


BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat manusia dalam islam
2.1    Manusia dalam pandangan islam

  Manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Dia tidak akan mampu mengungkapkan siapa dirinya. Manusia adalah makhluk yang di beri akal oleh Allah. Dengan akal, manusia akan berfikir, dan dengan berfikir akan timbul pertanyaan yang akan timbul jawabannya. Menurut Murtadha Mutahari, manusia adalah makhluk yang serba dimensi.

1.      Secara fisik manusia hampir sama dengan hewan yang membutuhkan makan, minum,dan sebagainya.
2.      Manusia memiliki sejumlah emosi.
3.      Mempunyai perhatian terhadap keindahan
4.      Mempunyai dorongan untuk menyembah Allah.
5.      Memiliki kemampuan dan kekuatan yang perlipat ganda karena dikaruniakan akal,pikiran dan kehendak.

2.2    Asal usul kehidupan dalam perspektif Islam

Semua kehidupan berasal dari Yang Mahada, yaitu Allah SWT. Manusia pun diciptakan oleh Allah SWT. Hanya manusia pertama,yaitu Adam a.s. yang diciptakan secara langsung oleh Allah dari tanah, sedangkan manusia keturunan Adam yang diciptakan dari setetes air mania tau dari segumpal darah. Perbedannya adalah sebagai berikut:

1.      Adam di ciptakan secara langsung oleh Allah dari tanah dan Allah meniupkan roh-Nya ke dalam jiwa Adam;
2.      Manusia keturunan dilahirkan melalui perkawinan antara laki-laki dan perempuan. Jika perempuan hamil, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh-Nya kedalam janin sang bayi yang masih berada di dalam Rahim sang ibu.

Alam semesta pun keberadaannya sama sebagaimana manusia diciptakan oleh Allah. Allah pula yang telah menciptakan alam semesta. Allah berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 30 yang artinya:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian kami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa m'ereka tidak beriman?”(Q.S. al-Anbiya’: 30)


Demikian pula, firman Allah SWT. Dalam surat An-Nur ayat 45 berikut:

“Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kakinya, sedangkan bagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah MahaKuasa segala sesuatu “(Q.S. an-Nisa: 45)

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan bebagai jenis tumbuhan yang berasal dari air. Demikian pula, Allah menciptakan berbagai jenis hewan,yaitu.

1.      Hewan yang berjalan dengan perutnya, seperti cacing.
2.      Hewan yang berjalan dengan dua kaki, seperti ayam.
3.      Hewan yang bejalan dengan empat kaki, seperti kambing.
4.      Hewan yang dapar merayap, dapat terbang, dan sebagainya.

Setiap hewan dan tumbuhan pun diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan, sebagaimana terdapat dalam surat Ar-Ra’d ayat 3:

“Dan Dia yang menghamparkan bumi dan yang menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan. Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh pada yang demikian terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. “ (Q.S Ar-Rad: 3)

Adapun yang di maksud berpasang-pasangan,adalah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar dan kecil, dan sebagainya. Bahkan ayat di atas menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan bumi dan gunung-gunung yang di jadikan paku bumi dengan sungai-sungai yang mengalir untuk kepentingan manusia dan semua makhluk hidup.

2.3       Penyebutan nama manusia

Manusia mempunyai nama-nama lain, yaitu:

1.      Aspek historis, manusia disebut dengan Bani Adam (Q.S Al-A’raf: 31)
2.      Aspek biologis, manusia di sebut basyar yang mencerminkan sifat-sifat fisik kimia dan biologisnya (Q.S Al-Mu’minun: 33)
3.      Aspek kecerdasan, manusia di sebut dengan insan, yaitu makhluk terbaik yang diberi akal sehingga mampu menyerap ilmu pengetahuan (Q.S Ar-Rahman: 3-4)
4.      Aspek sosiologis, manusia disebut dengan annas yang menunjukan sifat berkelompok dengan sesama manusia (Q.S Al-Baqoroh:21)
5.      Aspek posisinya disebut abdun yang menunjukan kedudukannya sebagai hamba allah yang harus tunduk dan patuh (Q.S Saba:9)

2.4       Fungsi dan peranan manusia

Fungsi manusia adalah sebagai hamba allah menjadikan manusia  berperan sebagai pengabdi hanya kepada allah dengan sepenuh hati. Adapun fungsi manusia sebagai khalifah Allah menjadikan manusia sebagai pengelola bumi Allah SWT.
Kedua fungsi dan peran manusia pada hakikatnya adalah satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan. Sebab, fungsi dan peran manusia sebagai khalifah Allah yang memakmurkan bumi ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari fungsi dan peran manusia sebagai hamba Allah.
Manusia mempunyai peran yang ideal yang harus dijalankan, yaitu memakmurkan bumi, mendiami dan memelihara serta mengembangkannya untuk kemaslahatan hidup manusia, bukan mengadakan kemudharatan dibumi. Allah akan meminta pertaggung jawaban setiap manusia sesuai dengan peranan yang di lakukan di dunia sekecil apapun peranan tersebut.

2.5       Hakikat manusia atau perspektif islam

Dari sudut pandangan psikologi, pandangan tentang hakikat manusia mengaruh pada sifat-sifat  manusia (human nature), yaitu sifat-sifat khas segenap manusia. Hakikat manusia yang di maksud dalam sudut pandang ini adalah sesuatu yang esensial dan merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain.
Menurut para pemikir islam , seperti Al-Farabi, al-Ghozali dan lain-lain menyatakan bahwa manusia adalah rangkaian utuh antara dua unsur yaitu materi dan immateri. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa unsur-unsur tersebut tidak bias dipisahkan satu sama lain. Dengan kata lain, tidak bias dikatakan sebagai manusia jika salah satu di antara dua unsur tersebut tidak ada. Adapun unsur immateri manusia yang menjadi pembahasan psikologi islam yaitu:
1.      Roh
Dalam surah Al-Hijr ayat 28-29 Allah berfirman yang artinya: “ Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan keadaannya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa apabila kejadian manusia telah disempurnakan baru, Allah SWT meniupkan roh kedalam jasad manusia. Roh merupakan unsur mulia dalam diri manusia. Tentang hakikat roh ini, Allah telah menjelaskan dengan firmannya yang artinya:
Dan mereka bertanya kepadaku tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit “ (Q.S Al-Israa:85)

2.   Nafs
Roh dan nafs mempunyai hakikat yang sama, namun diberikan istilah yang berbeda karena sifat dan fungsi masing-masing. Menurut Amjad, roh hanya di gunakan untuk menunjukan unsur rohani manusia pada tingkatan yang lebih tinggi dari pada nafs, roh dipandang sebagai dimensi khas insani yang merupakan sarana ghaib untuk menerima petunjuk dan bimbingan Allah, sedangkan nafs digunakan untuk menggambarkan unsur rohani manusia yang mengandung kualitas-kualitas insaniah. 

3.   Qolb
Istilah Al-Qolb disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Haj ayat 46 yang artinya:
“Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karna sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”
Menurut Quraish shihab, kata Qolb di ambil dari kata yang bermakna membalik, karena dia sering kali berbolak balik, sekali senang, sekali setuju dan sekali menolak, qalb amat berfungsi untuk tidak konsisten.
     Al-Qolb mempunyai dua makna, yaitu:
A.      Fisik, yaitu segumpal daging berbentuk lonjong yang terletak didalam rongga dada sebelah kiri yang terus-menerus berdetak selama manusia masih hidup.
B.      Metafisik, yaaitu hati nurani atau suara hati.

4.   Aql
Secara bahasa berarti menahan atau mengikat. Berdasarkan pemahaman secara bahasa ini, aql adalah orang yang mampu menahan atau mengikat dorongan-dorongan hawa nafsunya. Akal ada dua makna, yaitu:
1.   Akal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak dikepala (otak)
2.   Akal rohani, yaitu kemampuan jiwa yang di persiapkan dan diberi kemampuan untuk memperoleh pengetahuan (al-ma’rifah)

Hawa secara harfiyah menurut kehendak. Hawa merupakan karunia tuhan yang diberikan kepada manusia. Dengan nafsu, manusia bias menikmati segala keindahan dan kenikmatan yang ada di dua alam ini. Nafsu mendorong akal untuk memikirkan cara-cara hidup yang lebih baik dan nafsu pula yang mendorong manusia untuk hidup berkeluarga dan berketurunan. Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya. “Dijadikan indah pada (pandangan)manusia kecintaan kepada apa-apa yang di ingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surge) “ (Q.S Al- Imron:14)
Berdasarkan ayat di ini, hawa nafsu terbagi dua bagian, yaitu:

2.   Seksual, nafsu ini mendorong dan menyebabkan umat manusia berkembang dan berketurunan.
3.   Perut, yaitu mendorong akal manusia untuk memikirkan cara hidup yang lebih layak.

Disamping dua nafsu ini, Al-Ghazali menambahkan satu nafsu lagi yaitu marah atau ghadab. Nafsu ini mendorong manusia untuk melakukan apa saja atau menentang apa saja yang di anggap mengancam dan merugikan dirinya. Namun manusia selalu di ingatkan agar selalu waspada terhadap sifat dan kekuatan nafsu yang selalu cenderung dalam keburukan. 


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan terdahulu dapat di simpulkan bahwa manusia dalam pandangan islam adalah makhluk yang diberi akal oleh Allah. Dengan akal, manusia  akan berpikir, dan dengan berpikir akan banyak timbul pertanyaan yang akan timbul pertanyaan dan akan timbul jawaban-jawaban yang dicari.
Adapun menurut pandangan psikologi islam, manusia adalah rangkaian utuh antaraa dua unsur yaitu materi dan immateri. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa unsur-unsur tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lai, tidak bisa di katakana sebagai manusia jika sala satu diantara dua unsur tersebut tidak ada.


DAFTAR PUSTAKA


Abas Asyafah, Proses kehidupan Manusia dan Nilai Eksistennya, (Bandung :Alfabeta, 2009).

Herabudin, Ilmu Alamiah Dasar, (Bandung:40253).

Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar , Yogyakarta, 1995.

Sarlito, Psikologi Perkembangan Umum, (Jakarta: Rajagrapindo Persada,2010).

Bustanuddin Agus, al-Islam, PT.Raja Grafindo persada, Jakarta, 1993.
Read more
Fenomena Langit di Bulan April
Wednesday, April 01, 20200 Comments
Fenomena Langit di Bulan April
Disetiap bulannya, langit mengalami beberapa kejadian atau fenomena. Tentunya, kita pun dapat mengetahuinya jika hal tersebut ada dan terjadi. Apalagi jika itu yang membuat kita tertarik untuk menyaksikannya, karena berhubungan dengan kehidupan kita. Kita dapat menikmatinya dengan jelas, seperti bulan purnama, adanya meteor jatuh, dan lain-lainnya.
1. Bulan Purnama
Biro Humas Pussainsa (Pusat Sains Antariksa) Cristine mengatakan, bahwa ada beberapa fenomena yang akan terjadi di tanggal 8 April. Salah satunya kejadian itu adalah bulan purnama atau yang sering dikenal dengan ungkapan Supermoon, yang biasanya banyak ditunggu oleh semua orang yang tertarik menyaksikannya. 
Astronot baru Marufin mengungkapkan bahwa ­supermoon memiliki nama resmi Bulan purnama Perigean, peristiwa ini terjadi ketika Bulan purnama berpapasan dengan Bulan menempati titik prigee (Titik terdekat ke Bumi dalam orbit Bulan dengan jarak sekitar 357.404 kilometer dengan ukuran diameter mencapai 33,43 menit busur. Hal ini sama halnya seperti yang dikatakan oleh salah satu Biro Humas Pussainsa (Pusat Sains Antariksa), Cristine.
2. Hujan Meteor
Salah satu fenomena yang diprediksi akan terjadi adalah adanya hujan meteor, sebut saja hujan meteor Lyrid. Hujan meteor ini ada disebabkan oleh partikel debu yang ditinggalkan oleh komet C/1861 G Thatcer yang ditemukan pada tahun 1861. Hujan meteor ini berlangsung dalam rentan waktu tahunan, diprediksi kuat akan ada sekitar 16-25 April.
Setidaknya ada tiga hal yangmembuat hujan meteor itu terjadi, yaitu sebagai berikut.
  •  Dalam kondisi cuaca yang cerah.
  • Tidak ada dominasi polusi cahaya, sangat disarankan meminimalisir penggunaan cahaya.
  • Medan pandang tidak boleh terhalang, dan harus berada pada posisi atau titik koordinat yang tepat.
3. Bulan Baru
Bulan baru adalah salah satu fenomena yang dianggap akan hadir menemani perjalan hidup kita di tahun ini. Pada bulan April kali ini, bulan akan terletak di sisi bumi yang selaras dengan matahari dan tidak tampak di malam hari. Pase ini diperkirakan akan terjadi pada 27 April, 02.27 UTC atau 09.27 WIB.
Biasanya momentum seperti ini dimaksilkan oleh beberapa orang, seperti menyaksikan secara jelas dan mendokumentasikannya.
Read more